Best Foods
Fast Foods
Nice Food

Sabtu, 28 November 2009

Film 2012






2012
adalah sebuah film bencana tahun 2009 yang disutradarai Roland Emmerich. Film ini memiliki ensemble cast, termasuk John Cusack, Amanda Peet, Danny Glover, Thandie Newton, Oliver Platt, Chiwetel Ejiofor, dan Woody Harrelson. Film ini akan didistribusikan oleh Columbia Pictures. Syuting dimulai bulan Agustus 2008 di Vancouver.


Alur

Film ini terinspirasi oleh ide peristiwa hari kiamat global yang bersamaan dengan akhir putaran Kalender Hitungan Panjang Maya pada atau sekitar 12 Desember 2012 (titik balik matahari musim dingin belahan Bumi utara).

Jackson Curtis (John Cusack) adalah seorang ayah yang telah bercerai yang bekerja sampingan sebagai supir limousin dan penulis, sementara bekas istrinya (Amanda Peet) dan anak-anaknya tinggal bersama dengan pacar barunya, Gordon (Thomas McCarthy).

Di kota Tikal suku Maya di Guatemala, korban bunuh diri massal tampaknya mempercayai kalender Maya, yang meramalkan akhir dunia yang bersamaan dengan Kesejajaran Galaktik, yang terjadi pada 21 Desember 2012, tanggal terjadinya titik balik matahari musim dingin di belahan Bumi utara. IHC (Institute for Human Continuity), sebuah organisasi rahasia, menyadari situasi ini dan mulai membangun bahtera besar di bawah Pegunungan Himalaya yang dirancang untuk menghadapi banyak bencana alam untuk menyelamatkan manusia, spesies tertentu, dan harta manusia yang paling berharga ketika kiamat akhirnya terjadi. Ada perdebatan tentang bagaimana dan kapan pemerintah dunia akan memberitahu warga mereka, dan cara memilih orang-orang yang akan diselamatkan dari kiamat ini. Sementara itu, ketika sedang dalam perjalanan siang menuju Yellowstone dengan dua anaknya, Jackson bertemu Charlie Frost (Woody Harrelson), yang membawakan acara radionya sendiri tentang prediksi suku Maya terhadap 21 Desember 2012.

Retakan besar terbentuk di Patahan San Andreas, California, dan meskipun pemerintah meyakinkan segalanya aman, Jackson tidak yakin. Menyewa pesawat pribadi dan memperoleh barang-barang darurat, ia pergi ke rumah Kate di L.A. untuk menyelamatkan keluarganya dan Gordon dari gempa bumi karena perpindahan kulit Bumi. Jackson dengan cepat mengumpulkan keluarganya, dan setelah perjalanan yang panjang dan berbahaya dengan jalan-jalan yang runtuh menuju Bandar Udara Santa Monica, pacar baru Amanda, Gordon menggunakan kemampuan terbangnya untuk menyelamatkan keluarga ini. Seluruh kota Los Angeles yang runtuh mulai tenggelam ke Samudera Pasifik. Ketika pesawat semakin kekurangan bahan bakar, kelompok ini melihat kemungkinan mendarat di Wyoming. Jackson memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu Charlie. Menentang keinginan Kate, Jackson dan Lily pergi mencari Charlie, meskipun menemukan mobil van-nya kosong. Melalui radio, Charlie memberitahukan pendengarnya bahwa ia telah pergi ke pegunungan untuk menyaksikan kiamat. Jackson mengemudikan van tersebut untuk menemukan dan menyelamatkan Charlie, tapi Charlie menolak pergi. Ketika Jackson dan Lily melarikan diri dari gunung api yang meletus, Charlie menyebutkan sebuah peta di van yang akan memperlihatkan rute lari. Jackson dan Lily pergi kembali ke pesawat melewati hujan batu lava. Setelah tiba, Lily lari ke pesawat, tapi Jackson tetap di van untuk mencari peta tersebut, dan itu terlalu lama. Ketika tanah terbuka, van itu jatuh ke sebuah celah. Keluarga Jackson ketakutan, tapi harus pergi. Jackson memegang pinggiran, dan berlari ke pesawat ketika tanah di belakangnya terus runtuh. Ia cukup cepat memasuki pesawat.

Semakin jelas bahwa tidak hanya California yang mengalami bencana: Gunung Api Super Yellowstone meletus; gempa besar terjadi di Amerika Selatan; Washington, D.C. dibanjiri oleh tsunami dan USS John F. Kennedy menghancurkan Gedung Putih; dan St. Peter's Basilica di Roma runtuh, menewaskan ribuan orang. Tsunami lain menghantam New York City, menenggelamkan Patung Liberty. Pemerintah AS akhirnya mengumumkan akhir dunia. Jackson dan keluarganya harus mencari jalan ke Cina untuk menaiki kapal besar, karena pesawat kecil mereka tak mampu melakukan perjalanan ini. Ketika mereka mencari pesawat baru, semuanya dipenuhi penumpang. Tetapi, Gordon bergantung pada salah satu klien lamanya, Tamara (Beatrice Rosen). Ia bersama dengan milyuner Rusia, Yuri Karpov (Zlatko Buric). Keluarga ini mengetahui bahwa Yuri telah membawa pesawat untuk kabur ke Cina. Jackson meminta untuk memperbolehkan keluarganya, tapi Yuri menolak. Tetapi, pilotnya, Sasha (Johann Urb) memberitahu bahwa ia membutuhkan seorang kopilotdan Jackson mengatakan Gordon adalah pilot terlatih. Sehingga, kelompok ini akhirnya menaiki pesawat tersebut sementara bandara hancur oleh gempa bumi.

Ketika mereka ada di udara, Sasha sadar bahwa pesawat ini tidak memiliki bahan bakar cukup untuk terbang ke Cina. Ia memberitahu Gordon, dan mereka setuju untuk mendarat di air. Sasha kemudian mengetahui bahwa mereka tidak lagi di atas lautan: kulit Bumi telah berpindah ribuan mil dan mereka mengarah ke Pegunungan Himalaya. Mengetahui resiko mendaratkan pesawat di atas salju, Sasha mengatakan pada penumpang untuk pergi ke penyimpanan kargo dan banyak mobil disimpan di sana, sementara ia dan Gordon mempertahankan kontrol dan membuka pintu kargo dari kokpit. Rencana mereka ialah mengeluarkan mobil tersebut dari penyimpanan kargo. Gordon harus meninggalkan Sasha dan berlari ke mobil tepat waktunya. Sasha mendaratkan pesawat di sebuah jurang, yang kemudian runtuh. Anggota kelompok lainnya mendarat selamat. Tamara menangis dan meminta agar mereka kembali untuk mencari Sasha. Sebelum mereka bertindak, helikopter Cina yang mengangkut hewan besar terbang di atas mereka. Satu helikopter mendarat, meskipun kelompok ini tahu bahwa mereka harus bayar untuk menaikinya. Yuri membayar untuk dirinya dan putranya, tapi menolak membayar untuk orang lain. Sebelum masuk helikopter, ia berkata pada Tamara bahwa ia tahu hubungannya dengan Sasha.

Kelompok ini tak memiliki pilihan kecuali jalan melintasi pegunungan untuk mencari kelompok lain. Sebuah mobil lewat, Jackson melempar batu ke arahnya. Mobil berbalik dan penumpang membolehkan mereka naik. Di dalamnya terdapat seorang biarawan Buddha, Nima (Osric Chau), dan neneknya (Lisa Lu). Mereka pergi untuk bertemu dengan saudara Nima, Tenzin (Chin Han), yang punya rencana untuk menyelinap ke kapal besar itu.

Setelah tiba, Tenzin marah. Ia mengatakan pada Nima bahwa rencananya tidak dapat melibatkan banyak orang, dan orang lain tidak bisa diikutkan bergabung. Jackson dan Kate memaksa pada Tenzin bahwa mereka membawa anak-anak. Setelah perdebatan panjang, Tenzin membolehkan seluruh kelompok bergabung.

Jackson dan keluarganya berusaha menyelinap ke kapal itu dengan bantuan Tenzin. Carl Anheuser (Oliver Platt), Kepala Staf Presiden kemudian memerintahkan agar gerbang kapal ditutup, sementara suplai belum cukup. Ketika gerbang ditutup, kaki Tenzin hancur dan Gordon tewas. Dr.Adrian Helmsley,penasihat ilmiah Presiden (Chiwetel Ejiofor), kaget dan memutuskan gerbang dibuka untuk korban selamat yang tersisa. Roda sebuah gerbang di kapal tersebut macet dan tak mau menutup, sehingga gerbang setengah terbuka. Mesin kapal tak bisa dinyalakan kecuali gerbang ditutup. Ketika tsunami menghantam kapal, sebuah struktur penopang utama patah, dan kapal mengapung menuju Gunung Everest. Jackson dan Noah berusaha memperbaiki roda kapal dan gerbang pun tertutup. Mesin dinyalakan kembali untuk menghindari tabrakan dengan gunung. Kapal menabrak Gunung Everest, tapi mengalami sedikit kerusakan. Ketika banjir menyurut, kapten kapal memutuskan Tanjung Harapan Baik di Afrika Selatan sebagai tanah baru yang cocok bagi korban selamat.

FENOMENA 2012



Fenomena 2012 adalah serangkaian kepercayaan dan rencana yang menyebutkan bahwa peristiwa bencana atau transofrmatif akan terjadi di tahun 2012.[1][2] Perkiraan ini didasarkan pada apa yang diklaim sebagai tanggal akhir dari kalender Hitungan Panjang Maya, yang merentang selama 5.125 tahun dan berakhir pada 21 atau 23 Desember 2012. Pendapat yang mendukung penanggalan ini berasal dari arkeoastronomi amatir, penerjemahan alternatif mitologi, konstruksi numerologi, dan ramalan dari makhluk ekstraterestrial.

Penerjemahan Zaman Baru terhadap perpindahan ini menunjukkan bahwa, selama ini, planet ini dan penghuninya sedang mengalami transformasi fisik atau spiritual secara positif, dan bahwa 2012 dapat menandakan awal era baru.[3] Sebaliknya, sejumlah orang percaya bahwa tanggal pada tahun 2012 menandakan awal kiamat. Kedua ide ini telah diterbitkan dalam berbagai buku dan dokumenter TV, dan telah menyebar ke seluruh dunia melalui situs web dan grup diskusi.

Cendekiawan Mayanis mengatakan bahwa ide mengenai kalender Hitungan Panjang yang "berakhir" tahun 2012 tidak mewakili sejarah Maya.[2][4] Di masa Maya modern, 2012 sangat tidak relevan, dan sumber Maya klasik mengenai fenomena ini sudah langka dan bertentangan, menyatakan bahwa ada kemungkinan kecil tanggal ini diakui secara universal.[5]

Klaim yang terus muncul oleh orang-orang yang memperkirakan akhir dunia di tahun 2012 (sejajar dengan lubang hitam, tabrakan dengan planet bebas, perpindahan kutub) telah ditolak sebagai pseudoilmiah oleh komunitas ilmiah. Banyak klaim ini melanggar hukum fisika, atau bertentangan dengan observasi sederhana.

Sebuah film berjudul 2012, yang disutradarai Roland Emmerich, telah menggunakan kampanye pemasaran viral mengenai kekhawatiran kiamat di tahun tersebut. Kampanye ini, yang berupa video kesadaran publik dari organisasi fiksi "Institute for Human Continuity", telah dikritik karena berkontribusi pada ketakutan umum mengenai masalah ini.

Suku Maya tentang 2012

Suku Maya saat ini, secara keseluruhan, tidak menaruh ketertarikan apapun pada 2012. Meskipun perputaran kalender masih digunakan oleh sejumlah suku Maya di dataran tinggi Guatemala, Hitungan Panjang masih diberlakukan oleh suku Maya klasik, dan baru-baru ini ditemukan kembali oleh para arkeolog.[19] Tetua Maya, Apolinario Chile Pixtun dan arkelolog Meksiko, Guillermo Bernal, keduanya mencatat bahwa "kiamat" adalah konsep Barat yang tidak memiliki kesamaan dengan kepercayaan Maya. Bernal percaya bahwa ide seperti itu telah disisipkan pada suku Maya oleh bangsa Barat karena mitos mereka sendiri "lenyap".[20][21] Arkeolog Maya, Jose Huchm mengeluh bahwa, "Bila aku pergi ke komunitas penutur bahasa Maya dan menanyakan orang-orang apa yang akan terjadi pada 2012, mereka tak tahu apa-apa. Apakah dunia ini segera berakhir? Mereka takkan mempercayaimu. Kami sangat mempermasalahkan hal ini, layaknya hujan."[20]

Kesamaan yang diberikan suku Maya klasik tentang tanggal 2012 belum jelas. Kebanyakan prasasti Maya klasik masih bersejarah dan tidak membuat pernyataan ramalan apapun.[22] Dua benda dalam sisa sejarah Maya menyebutkan akhir baktun ke-13: Tortuguero Monument 6 dan, kemungkinan Chilam Balam.


TINGKATAN ALAY !

A) TINGKAT PALING RENDAH:

1. nulis kata disingkat, seperti “lagi apa?” gi pha?? atau bosen banget jadi “bsen bgd nh”
2. memakai simbol tambahan. “p@ k@bar L0e??” atau “~hha..~ y nh.. lg bosen~”
3. menggunakan huruf Z dibelakang kata. “mlz bgtz!” atau “gurunya malezin yh”
4. comment orang dengan minta balasan kaya “repp iah!” / “blz dum” / “reply dsini iiaaa”
5. layoutnya yang super rame bahkan berfotmat gif (gerak) dengan warna ngejrenk pinkk fontnya yang anehlah


B) TINGKAT RENDAH

1. aboutme panjaaaang banget dengan gambar dari myspace yang gajelas pake isi gr-gr an kaya “aq tuh…. cntik…. lucu…. punya cowo ganteng…” zzz dan sebagainyalah lo tau kan
2. penggantian kata! gue / gw / gua = w, lo / lu = lw / loe. dong = dumzz / dwunhh
3. foto serba diediiiiit abis apalagi yang editnya emo emo pake tulisan gothic gitu
4. mediabox dipenuhin dengan gambarrrrrr


C) TINGKAT SEDANG

1. mamerin kebisaan dishotout, misalnya “eh w kan menang track motor lohh..” atau “eh w les nyetir dong..” dan yang lebih oon nya “eh w makin oke dan top ya tiap hari” (halah)
2. rusuhin comment foto. misalnya cuma dicomment “cantik deh/ganteng deh” balesnya “emg gw gnteng gtuu… y krna trlahir dh ganteng kli ya?? hha. dan kyanya……….blabalabla”
3. nickname digabung sama nama org yang disuka dengan cara gajelas. misalnya (kalo namanya sama maaf ya) “delita saiianks si luthuu..” atau “delita cinta dya” gitulah ya aezzz…
4. bikin album yang isinya artis favorit mereka. contoh “kangen band khuzuz loh!!” apalagi albumnya pake dikunci, yah capedeh!!


D) ALAY TINGKAT PARAH!

1. barang abal yang dipamerin ketemen terus dia ngaku beli di singapore. amrik . dan sbgainya. “eh liat nih gue beli gelang dijerman gituloh asli kalo ga salah sih dirupiahin 500 ribu ya.” padahal dia beli di itc aja!! yang 10 ribu 5 hahaha.
2. tulisan gede-kecil. “aLoW kLiAnZ hArUz ADd GwE YaH!!” atau dengan angggka “K4Ng3nZ dWEcChh” NNNNNZZZZZ
3. minta di add di shotout, “j9n lupa ett ghw”
4. gaya dengan bibir monyong, telunjuk nempel bibir, gaya tangan dengan oke dipinggir kepala dan foto dari atas
5. nge post bulbo cuma buat kasih tau dia lagi online & minta comment


=> apa anda termasuk kedalamnya ??

hahahaaa =)

Rabu, 25 November 2009

tips pacaran islami =)


TIPS “PACARAN YANG ISLAMI”

1. Jangan berduaan dengan pacar di tempat sepi, kecuali ditemani mahram dari sang wanita (jadi bertiga)

“Janganlah seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya…”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341, Lihat Mausu’ah Al Manahi Asy Syari’ah 2/102]

“Tidaklah seorang lelaki bersepi-sepian (berduaan) dengan seorang perempuan melainkan setan yang ketiganya“ (HSR.Tirmidzi)

2. Jangan pergi dengan pacar lebih dari sehari semalam kecuali si wanita ditemani mahramnya

“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sehari semalam tidak bersama mahromnya.” [HR Bukhori: 1088, Muslim 1339]

3. Jangan berjalan-jalan dengan pacar ke tempat yang jauh kecuali si wanita ditemani mahramnya

“…..jangan bepergian dengan wanita kecuali bersama mahromnya….”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341]

4. Jangan bersentuhan dengan pacar, jangan berpelukan, jangan meraba, jangan mencium, bahkan berjabat tangan juga tidak boleh, apalagi yang lebih dari sekedar jabat tangan

”Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283, lihat Ash Shohihah 1/447/226)

Bersabda Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallam: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa’i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah 2874, ahmad 6/357, dll]

5. Jangan memandang aurat pacar, masing-masing harus memakai pakaian yang menutupi auratnya

“Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya ” (Al Qur’an Surat An Nur ayat 30)

“…zina kedua matanya adalah memandang….” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)

6. Jangan membicarakan/melakukan hal-hal yang membuat terjerumus kedalam zina

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Al Qur’an Surat Al Isra 32)

“Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah, dan mulut berzina dan zinanya adalah mencium.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud)

7. Jangan menunda-nunda menikah jika sudah saling merasa cocok


“Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka adalah mulut.” (H.R. Turmudzi dan dia berkata hadits ini shahih.)


Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun – dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.

Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai.

Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka.karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.

Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.

Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi.

Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru.

Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.

Ayah benar-benar senang membantu seseorang… tapi ia sukar meminta bantuan.

Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke bengkel, karena ia merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya.

Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.

Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam…walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati.

Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.

Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.

Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.

Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk mengantarkanmu dihari pertama masuk sekolah

AYAH ITU MURAH HATI….. Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang
kamu butuhkan…. .

Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan, dan ia akan menghabiskannya kalau kamu tidak suka…..

Ia menghentikan apasaja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara…

Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya….

Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.. ..

Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu….

Ayah akan berkata “tanyakan saja pada ibumu” ketika ia ingin berkata “tidak”.

Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin

Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepregok menghisap rokok dikamar mandi.

Ayah mengatakan “tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan”

Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya….

Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri….

Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.

Ayah tidak suka meneteskan air mata …. ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis). Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu…ketika kau mimpi akan dibunuh monster… tapi…..ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

Untuk masadepan anak lelakinya Ayah berpesan: “jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu”

Dan Untuk masadepan anak gadisnya ayah berpesan: “jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu”

Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu….

Ayah bisa membuatmu percaya diri… karena ia percaya padamu…

Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik….

Dan terpenting adalah… Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.

Dan untuk semua yang sedang merindukan Ayah,

WE LOVE YOU DAD ..

YOU ARE THE BEST IN THE WORLDS


- sayangi ayahmu yaaaaaa . . . . . . . . . . .




Thanksgiving Memories

Happy Thanksgiving, everyone!

I've been thinking a lot about tradition in the last few weeks. What are the things in my life--and especially my childhood--that happened every year that I really treasure? There are many, but at the very top of my list is Thanksgiving.

What do I love about Thanksgiving? Well, first and foremost, The Parade. Oh, yes. That tasty bit of commercialism put on by Macy's. When I was a little girl--as young as three and maybe even two--my Grandpa would take me into NYC for the Macy's Thanksgiving Day Parade every year. He would drive us into the city--an adrenaline-inducing experience once I was old enough to understand the rules of the road--and we would get out somewhere near Central Park. Then, we'd walk what seemed like 10 exhilarating miles to my little feet. Finally, we'd find our place on the sidewalk, Central Park to our back, posh houses (including Billy Joel's, one year!) across the street, and very very cold concrete under our bums (we put blankets down, but they only did so much).

I cannot express to you the wonder of The Parade up close--especially when I was so small. The marching bands going by. The huge balloons, and wondering if they could navigate this building corner, or that tree. The ornate floats. The clowns that actually perform for you whenever the parade has to stop and march in place for a "commercial break." It was all mesmerizing and fantastical.

There are definite Parade Memory Highlights. There was the year that Superman's balloon hand get severed and fell just a little down the road from us. The crazy thrill of seeing the ACTUAL New Kids on the Block waving from their float (OMG, OMG, OMG!!! That's really them!!!!). The year when my brother was just old enough to really enjoy the parade--he had a thing for clowns and tried to run out and join them (Mom had him on a kind of "leash" made with telephone cord, so he didn't get far. The policeman told her she was the smartest lady in the crowd that day).

And, always, intrinsic to all of these memories, my Grandpa. My Grandpa standing behind me, and shouting, "Look, Allie! It's Bull Moose!!!" (It was Bullwinkle.) And, believe me, my Grandpa was loud, so the whole block heard. My Grandpa edging my brother and me closer to the barricade, so that we were practically directly under it, so that we could have the best view. My Grandpa, hooting louder than all of us when we walked through the echoing tunnel that lead us to and from our far-away parked car. My Grandpa, parallel parking the last year we went to The Parade (I was in my early teenage years), and telling my Grandma that "Rhoda, we'll get into this space just fine," even after he had been trying for at least ten reverses, while my brother and I sat in the backseat with our eyes tightly clamped shut.My Grandpa, getting us back to Long Island just in time to turn the television on and see The Parade broadcast, while we "ooohed" and "aaaahed" over the performances the people on the float gave to the cameras, and how well (or, more thrillingly, not-so-well) each balloon fared for the rest of the walk down The Parade Route.

In two years, I'm hoping to go back to The Parade with my own child (named after my Grandpa, who is no longer with us), and with my child's "Grandpa." The experience will undoubtedly be very different--for starters, my child's Grandpa will be a quiet man, reserved--not at all inclined to yell about Bull Moose for all to hear. But, I'm hoping the memories will be just as warm, the place and the event just as magical.

I hope everyone has a wonderful Thanksgiving, filled with traditions, old and new, and memories of family that last a lifetime.

Thanksgiving Memories

Happy Thanksgiving, everyone!

I've been thinking a lot about tradition in the last few weeks. What are the things in my life--and especially my childhood--that happened every year that I really treasure? There are many, but at the very top of my list is Thanksgiving.

What do I love about Thanksgiving? Well, first and foremost, The Parade. Oh, yes. That tasty bit of commercialism put on by Macy's. When I was a little girl--as young as three and maybe even two--my Grandpa would take me into NYC for the Macy's Thanksgiving Day Parade every year. He would drive us into the city--an adrenaline-inducing experience once I was old enough to understand the rules of the road--and we would get out somewhere near Central Park. Then, we'd walk what seemed like 10 exhilarating miles to my little feet. Finally, we'd find our place on the sidewalk, Central Park to our back, posh houses (including Billy Joel's, one year!) across the street, and very very cold concrete under our bums (we put blankets down, but they only did so much).

I cannot express to you the wonder of The Parade up close--especially when I was so small. The marching bands going by. The huge balloons, and wondering if they could navigate this building corner, or that tree. The ornate floats. The clowns that actually perform for you whenever the parade has to stop and march in place for a "commercial break." It was all mesmerizing and fantastical.

There are definite Parade Memory Highlights. There was the year that Superman's balloon hand get severed and fell just a little down the road from us. The crazy thrill of seeing the ACTUAL New Kids on the Block waving from their float (OMG, OMG, OMG!!! That's really them!!!!). The year when my brother was just old enough to really enjoy the parade--he had a thing for clowns and tried to run out and join them (Mom had him on a kind of "leash" made with telephone cord, so he didn't get far. The policeman told her she was the smartest lady in the crowd that day).

And, always, intrinsic to all of these memories, my Grandpa. My Grandpa standing behind me, and shouting, "Look, Allie! It's Bull Moose!!!" (It was Bullwinkle.) And, believe me, my Grandpa was loud, so the whole block heard. My Grandpa edging my brother and me closer to the barricade, so that we were practically directly under it, so that we could have the best view. My Grandpa, hooting louder than all of us when we walked through the echoing tunnel that lead us to and from our far-away parked car. My Grandpa, parallel parking the last year we went to The Parade (I was in my early teenage years), and telling my Grandma that "Rhoda, we'll get into this space just fine," even after he had been trying for at least ten reverses, while my brother and I sat in the backseat with our eyes tightly clamped shut.My Grandpa, getting us back to Long Island just in time to turn the television on and see The Parade broadcast, while we "ooohed" and "aaaahed" over the performances the people on the float gave to the cameras, and how well (or, more thrillingly, not-so-well) each balloon fared for the rest of the walk down The Parade Route.

In two years, I'm hoping to go back to The Parade with my own child (named after my Grandpa, who is no longer with us), and with my child's "Grandpa." The experience will undoubtedly be very different--for starters, my child's Grandpa will be a quiet man, reserved--not at all inclined to yell about Bull Moose for all to hear. But, I'm hoping the memories will be just as warm, the place and the event just as magical.

I hope everyone has a wonderful Thanksgiving, filled with traditions, old and new, and memories of family that last a lifetime.

Minggu, 22 November 2009

Beautiful Chocolate: Mast Brothers!





Oh my sweet and thoughtful friend Miko fulfilled a chocolate dream of mine last week... and it was a SURPRISE! I opened up our crickety old metal black mailbox last week to retrieve the day's mail. Inside was a little package sent to me... I opened the package and squealed with delight-- a super cute birthday card from Miko, and a bar of my very own MAST BROTHERS chocolate!!! I really felt like lucky little Charlie in Charlie & The Chocolate Factory when he got his once-a-year Willy Wonka bar of chocolate for his birthday from his two sets of grandparents and his mom and dad. I felt even more like Charlie when I unwrapped the beautiful fleur de lys print paper stock to reveal a gold foil wrapped bar underneath!! And... once again... just like Charlie when he found the soggy dollar bill buried deep in the snow, then went to the nearest corner store to buy himself a bar of chocolate... I peeled back the gold foil and broke off a square of the chocolate and let it melt in my mouth.

Let me explain further.. we live in CANADA, see! No Mast Brothers chocolate here! And they only just began to provide an online ordering service, but at $100 for 10 bars, a leeeetle bit pricey... but Miko's friend Alia, who lives in Brooklyn, helped out in buying the bar for Miko to give to me!

The bar I received was dark chocolate, almonds, sea salt and olive oil, 72% Madagascar cacao! The Mast Brothers make each bar by hand... with lovely ingredients. I can relate to the painstaking process of making each piece by hand from scratch! I just think their packaging and design is just so perfect and nice. Here is a link to view more of their beautiful packaging!!

Wouldn't it be fun to have your very own chocolate factory? A mini chocolate factory in a tiny, beautiful, well-lit with natural light kitchen?

DREAMY. PS... a Willy Wonka link for you too!

Rabu, 18 November 2009

My First Bread Baking Day, Their 24th (BBD #24)



BreadBakingDay #24 (last day of submission December 1st)


For a while now, I've been reading other bloggers' posts for Bread Baking Day (also known as BBD), but I've been too intimidated to join in myself. This month, I finally decided to take the leap.

This is the blogging event's #24, though it is my first, and the theme is "Mixed Breads," meaning a bread that uses at least two different types of flour. This month is hosted by El Aroma de IDania. Be sure to hop over there after December 1 to see the round-up of what other bakers made this month.

As for me, I knew I wanted to make a bread that used cornmeal and wheat flour. Mostly, I wanted to ease into this, and I knew that cornmeal was something I had worked with before. Given that the baby had taken my baking mojo for so long, I didn't want to make anything too intense, for fear that I wasn't as "back in the game" as I had thought.

In the end, I chose the Broa, from Bernard Clayton's New Complete Book of Breads. This recipe fit the bill for me perfectly, for a few reasons. First, it was an honest-to-goodness yeast bread baking experience, so I didn't have to feel like I had shirked my responsibilities. Second, the notes on the recipe said it went well with soup, and I planned to make soup to serve to Kurt and Doug for lunch when they took a break from working on finishing our basement. And, lastly, it was an international bread that I had never tried before, which means that it stretched both my abilities and my expectations of a "corn bread" a little.

The end result was good, if a little dry. Thankfully, we had the potato cauliflower soup (coming up in another post) to dunk the bread into. I'm pretty sure the bread was intended to be fairly dry and crumbly, and that it wasn't baker's error. So, I'm filing this under "soup breads" in my mind, as I couldn't really see serving it without some liquid for dunking.

Broa (Portuguese Corn Bread)

1 1/2 cups yellow cornmeal
1 1/2 teaspoons salt
1 1/4 cups boiling water
1 tablespoon olive oil
4 1/2 teaspoons dry yeast
1 1/4 cups King Arthur all-purpose flour (or more, depending on your dough's consistency)

Grease a baking sheet.

Pulverize the cornmeal in a blender or food processor until it is fine and powdery (I used the attachment to my stick blender).

In a stand mixer bowl, combine 1 cup of the powdered cornmeal, the salt, and the boiling water. Stir until smooth. Stir in the olive oil, and cool the mixture until it is lukewarm. Blend in the yeast.

Gradually add the rest of the cornmeal and 1 cup flour, stirring constantly with the flat beater of the mixer. Work the dough until it is a mass, adding 1/4 cup or more flour if necessary to overcome the stickiness.

Place a length of plastic wrap tightly over the bowl, and leave at room temperature until the dough has doubled in volume, 30 minutes.

Knead with dough hook for about 8 minutes, adding flour as necessary to form a firm but not stiff dough.

Shape dough into round ball, place on greased baking sheet and flatten slightly. Cover the ball with wax paper (do make sure it is wax paper--my plastic wrap stuck horribly to the surface of the dough) and leave until it doubles in bulk again, about 30 minutes.

Preheat the oven to 350. Bake about 40 minutes, until bottom crust sounds hollow when tapped. Cool on wire rack.

My First Bread Baking Day, Their 24th (BBD #24)



BreadBakingDay #24 (last day of submission December 1st)


For a while now, I've been reading other bloggers' posts for Bread Baking Day (also known as BBD), but I've been too intimidated to join in myself. This month, I finally decided to take the leap.

This is the blogging event's #24, though it is my first, and the theme is "Mixed Breads," meaning a bread that uses at least two different types of flour. This month is hosted by El Aroma de IDania. Be sure to hop over there after December 1 to see the round-up of what other bakers made this month.

As for me, I knew I wanted to make a bread that used cornmeal and wheat flour. Mostly, I wanted to ease into this, and I knew that cornmeal was something I had worked with before. Given that the baby had taken my baking mojo for so long, I didn't want to make anything too intense, for fear that I wasn't as "back in the game" as I had thought.

In the end, I chose the Broa, from Bernard Clayton's New Complete Book of Breads. This recipe fit the bill for me perfectly, for a few reasons. First, it was an honest-to-goodness yeast bread baking experience, so I didn't have to feel like I had shirked my responsibilities. Second, the notes on the recipe said it went well with soup, and I planned to make soup to serve to Kurt and Doug for lunch when they took a break from working on finishing our basement. And, lastly, it was an international bread that I had never tried before, which means that it stretched both my abilities and my expectations of a "corn bread" a little.

The end result was good, if a little dry. Thankfully, we had the potato cauliflower soup (coming up in another post) to dunk the bread into. I'm pretty sure the bread was intended to be fairly dry and crumbly, and that it wasn't baker's error. So, I'm filing this under "soup breads" in my mind, as I couldn't really see serving it without some liquid for dunking.

Broa (Portuguese Corn Bread)

1 1/2 cups yellow cornmeal
1 1/2 teaspoons salt
1 1/4 cups boiling water
1 tablespoon olive oil
4 1/2 teaspoons dry yeast
1 1/4 cups King Arthur all-purpose flour (or more, depending on your dough's consistency)

Grease a baking sheet.

Pulverize the cornmeal in a blender or food processor until it is fine and powdery (I used the attachment to my stick blender).

In a stand mixer bowl, combine 1 cup of the powdered cornmeal, the salt, and the boiling water. Stir until smooth. Stir in the olive oil, and cool the mixture until it is lukewarm. Blend in the yeast.

Gradually add the rest of the cornmeal and 1 cup flour, stirring constantly with the flat beater of the mixer. Work the dough until it is a mass, adding 1/4 cup or more flour if necessary to overcome the stickiness.

Place a length of plastic wrap tightly over the bowl, and leave at room temperature until the dough has doubled in volume, 30 minutes.

Knead with dough hook for about 8 minutes, adding flour as necessary to form a firm but not stiff dough.

Shape dough into round ball, place on greased baking sheet and flatten slightly. Cover the ball with wax paper (do make sure it is wax paper--my plastic wrap stuck horribly to the surface of the dough) and leave until it doubles in bulk again, about 30 minutes.

Preheat the oven to 350. Bake about 40 minutes, until bottom crust sounds hollow when tapped. Cool on wire rack.

Rum Raisin Muffins




My recipe journal tells me that I originally made these muffins on 12/28/08. I remember making them. I can't remember if it was snowing, or if it was going to snow, or if it just happened to be that there was lots of snow on the ground. Either way, snow was involved, since it was, after all, December in New Hampshire. I woke up, thinking that I would bake us some muffins for breakfast. That much I definitely remember. I also remember grabbing my copy of Granny's Muffin House and bringing it into the bed with me so that I could find a suitable recipe.

To my dismay, almost every recipe called for dairy--milk, or sour cream, or buttermilk. I do not keep such things in the house regularly--they usually just end up going bad if I haven't bought them for a specific recipe. But, alas, I did not want to leave, due to the snow situation. Finally, I found the one recipe in the book that used only ingredients in the house--Rum Raisin Muffins.

This was the first recipe I ever made out of this cookbook, so I wasn't sure what to expect. It's a quirky book, at best, written in what I take to be a grandmother's Southern accent, with lots of apostrophes where g's should be, and lots of funky little words. Take, for instance, this sentence from the head notes of the Rum Raisin Muffins: "It's because they're fixin' all the goodies for the homecomin' picnic tomorrow." So, with the all the cutesy intros, I was a little worried about the quality of the recipes. I didn't need to be.

These turned out wonderful. I don't know what you say about a household that doesn't have milk available on a Sunday morning, but has no trouble finding the dark rum. But, I can tell you that these muffins were worth it. They made the house smell incredible, and had just a little hint of that special holiday-season feel to them.

I made them again last Saturday. Again, I chose these muffins because I didn't have milk in the house to make any others. I also wanted the taste of the dark rum, without consuming the alcohol. I used up almost all of the Black Seal we had in the house (which wasn't much--trust me). I've told Kurt that he will have to go alone to replenish. Can't imagine waiting in line at a liquor store with a bottle of Black Seal in my hand, while nine months pregnant. Don't really want the angry glares.

Without further ado, here is the recipe for the Rum Raisin Muffins (colloquialisms and apostrophes removed):

1 cup raisins
1 cup boiling water
1/4 cup dark rum

2 cups flour
1 tablespoon baking powder
1/2 teaspoon salt
2/3 cup sugar
1 egg, beaten
1/2 cup butter, melted

Pour boiling water over raisins. Add rum and let sit about 30 minutes. Preheat oven to 400 degrees. Stir together flour and next three ingredients. Stir in the raisin mixture, liquid included, egg, and butter, just until moistened. Fill paper-lined muffin cups full, and bake approximately 20 minutes. Makes a dozen muffins.

Rum Raisin Muffins




My recipe journal tells me that I originally made these muffins on 12/28/08. I remember making them. I can't remember if it was snowing, or if it was going to snow, or if it just happened to be that there was lots of snow on the ground. Either way, snow was involved, since it was, after all, December in New Hampshire. I woke up, thinking that I would bake us some muffins for breakfast. That much I definitely remember. I also remember grabbing my copy of Granny's Muffin House and bringing it into the bed with me so that I could find a suitable recipe.

To my dismay, almost every recipe called for dairy--milk, or sour cream, or buttermilk. I do not keep such things in the house regularly--they usually just end up going bad if I haven't bought them for a specific recipe. But, alas, I did not want to leave, due to the snow situation. Finally, I found the one recipe in the book that used only ingredients in the house--Rum Raisin Muffins.

This was the first recipe I ever made out of this cookbook, so I wasn't sure what to expect. It's a quirky book, at best, written in what I take to be a grandmother's Southern accent, with lots of apostrophes where g's should be, and lots of funky little words. Take, for instance, this sentence from the head notes of the Rum Raisin Muffins: "It's because they're fixin' all the goodies for the homecomin' picnic tomorrow." So, with the all the cutesy intros, I was a little worried about the quality of the recipes. I didn't need to be.

These turned out wonderful. I don't know what you say about a household that doesn't have milk available on a Sunday morning, but has no trouble finding the dark rum. But, I can tell you that these muffins were worth it. They made the house smell incredible, and had just a little hint of that special holiday-season feel to them.

I made them again last Saturday. Again, I chose these muffins because I didn't have milk in the house to make any others. I also wanted the taste of the dark rum, without consuming the alcohol. I used up almost all of the Black Seal we had in the house (which wasn't much--trust me). I've told Kurt that he will have to go alone to replenish. Can't imagine waiting in line at a liquor store with a bottle of Black Seal in my hand, while nine months pregnant. Don't really want the angry glares.

Without further ado, here is the recipe for the Rum Raisin Muffins (colloquialisms and apostrophes removed):

1 cup raisins
1 cup boiling water
1/4 cup dark rum

2 cups flour
1 tablespoon baking powder
1/2 teaspoon salt
2/3 cup sugar
1 egg, beaten
1/2 cup butter, melted

Pour boiling water over raisins. Add rum and let sit about 30 minutes. Preheat oven to 400 degrees. Stir together flour and next three ingredients. Stir in the raisin mixture, liquid included, egg, and butter, just until moistened. Fill paper-lined muffin cups full, and bake approximately 20 minutes. Makes a dozen muffins.

Senin, 16 November 2009

TERRINE, TERRINE!

TERRINE: my definition: randomness food items floating in space jammed into a mold using gelatin or other fun products.

Ie: Jello explosion table of delightful desserts...

and fun times egg and meat party trapped in clear aspic...


Oh trompechompe. I've ignored you so badly in the last two months and for this I apologize. It seems as though Cupcake Mountain has taken over my life, and my hobby of updating this here blog fell by the wayside for a bit. But no longer.

So it was my birthday once again (you know how that thing happens? Once a year it seems to occur?) on November 15th and I had another "theme" party of sorts... "FOODIE!" My cousin-in-law and I are deeply obsessed with the television program Top Chef--so much so that I bought her a subscription to Food & Wine mag for her birthday, and one for myself too... and now a foodie themed birthday. The request: that guests bring a "foodie"-ish item. I was also told that I WAS NOT ALLOWED TO MAKE A DESSERT because I am always the dessert maker at parties-- I love making them and admittedly I was in PAIN AND CONFUSION because I was like, "Uh oh. I gotta make a savoury? What the H am I gonna make??"

So... I flipped through some varying recipe books of mine... and found the perfect mix of comedy and (hopefully)... deliciousness... the TERRINE!

I had seen the terrine be prepared many times on Top Chef. Okay, so it looks like it's a bunch of things packed tightly into a stainless steel mold, then chilled, upturned and cut into fancy slices that can be laid atop crostini or plopped (placed?) in the middle of a plate. Usually made with venison, or head cheese (yum!) or tongue, I've been told... since I have become a vegetarian of late (since starting to read Eating Animals... though reading this has since been interrupted by Barney's Version)... so I made mine with fresh goat cheese, asparagus, roasted portobello and sweet red pepper and wrapped it in blanched leek leaves.

So here is my documentation of "My First Terrine" !!! Enjoy! Recipe adapted from Martha Stewart's Hors d'Oeuvres cookbook...


MY FIRST TERRINE by L.Sung

Study first. Le Cordon Bleu handbook has some nice pics and ideas... for instance, putting your filling in a piping bag. Brilliant! Much less messy than trying to paddle and pat it down with a spatula...

Martha! Look at that triple threat of terrines from her Hors d'Oeuvres handbook! The two on the left involve the use of gelatin though, which I wanted to avoid.

First, line your terrine mold with cling wrap so it overlaps over the edges. Then, add quickly blanched leeks, lengthwise, as they make a handy dandy terrine wrapper.

Fill your piping bag with filling: mine is fresh goat cheese, beat with some plain yogurt to make it smoother, and sauteed finely diced leek ends (the white part).

Bricklay those cooked-until-just-tender asparagus in! It's like they're floating in clouds of tangy chevre!

Pat pat pat down with an offset spatula. Really pack 'er in.

Add more filling: I roasted sweet red pepper and slices of portobello mushroom for about 15 minutes on 400 degrees. Let cool completely before adding to terrine of course... Continue to "pipe and pat" and layer it up until you reach the top...

When you reach the top, fold over the leek edges. Then fold over the plastic cling wrap, then put the lid onto your terrine, put into fridge and let it set for 4-6 hours until well chilled!

Carefully unmold your terrine using a flat plate on top of the terrine--flip over and carefully unmold. Then, carefully unwrap. Then, slice with a sharp serrated knife!! I also made butter crostini (using store-bought French bread) in the oven, broil both sides so it gets crispy.

Hello, cuteness!! I thought it looked like a funny little caterpillar...

Slice 'er up and place on buttered crostini... Bite into deliciousness! Hooray!

Minggu, 08 November 2009

Shopping!!!


After such a long time (probably one year I guess) I finally did some shopping again! I think the Malaysia Grand Sales is back coz every store is doing such crazy discounts on every item! Ohh it feels so nice to shop! It’s weird that since ages I’ve wanted to get myself a black cardigan and I just managed to get it last night. I had few choices in mind between few of MNG’s or ZARA but finally I got the MNG one even though it was slightly more expensive than the ZARA coz the ZARA’s one didn’t have a nice cutting!


The black cardi that I got!
Then I bought this slipper which I’ve also been wanting to get for such a long time (but I just couldn’t find a nice one!). It looks something like wedges but it’s a slipper. So I got it straight away the minute I saw it! Actually I was planning to get a pair of new formal black shoes but then I changed my mind just after I saw the slipper! Lol! After that, I got this 2 spaghetti straps from MNG and a store called Chelo… really worth it!

Rabu, 04 November 2009

Menara Eiffel

menara eiffel dari wilayah sekitarnya


pemandangan panorama dari bawah menara eiffel


menara eiffel sebagai papan iklan untuk citroen sejak 1925 sampai 1934


petir menyambar menara eiffel 3 juni 1902 pukul 9:20 malam


menara eiffel dan seine di malam hari


melihat ke atas menara eiffel


pemandangan pembangunan menara eiffel


menara eiffel dalam pembangunan bulan juli 1888


menara eiffel oktober 2007



kapan ya gue bisa ke EIFFEL ????????????????????????????
hahahahahahahaaaaaa

Elizabeth Bathory




Elizabeth Báthory

Elizabeth Báthory (Báthory Erzsébet di Hungaria, Alžbeta Bátoriová(-Nádasdy) di Slowakia, Elżbieta Batory dalam Polandia, lahir 7 Agustus 1560 – meninggal 21 Agustus 1614 pada umur 54 tahun), adalah countess Hungaria dari keluarga Báthory. Keluarga ini diingat untuk pertahanan melawan Utsmaniyah. Ia terkenal sebagai pembunuh berantai dalam sejarah Hungaria dan Slowakia dan diingat sebagai Wanita Berdarah Csejte (kini Čachtice). Istana Čachtice merupakan tempat ia menghabiskan hidupnya. Setelah kematian suaminya, ia dan empat pembantunya dituduh menyiksa dan membunuh ratusan wanita muda, dengan sekurangnya sebanyak 650 korban. Pada tahun 1610, ia dipenjarakan di Istana Čachtice dan menghabiskan hidupnya disana. Bathory lahir di Hungaria thn 1560, kurang lebih 100 tahun setelah Vlad 'The Impaler' Dracul meninggal. Kakek buyut Elizabeth Báthory adalah Prince Stephen Báthory yang merupakan salah satu Ksatria yang memimpin pasukan Vlad Dracul ketika dia merebut kembali kekuasaan di Walachia seabad sebelumnya.

Elizabeth terlahir dari pasangan Georges dan Anna Báthory yang merupakan bangsawan kaya raya dan salah satu keluarga bangsawan paling kaya di Hungaria saat itu. Keluarga besarnya juga terdiri dari orang-orang terpandang. Salah satu sepupunya adalah perdana menteri di Hungaria, seorang lagi adalah Kardinal. Bahkan pamannya, Stepehen kemudian menjadi Raja Polandia. Namun keluarga Báthory memiliki 'sisi' lainnya yang lebih 'gelap' selain segala kekayaan dan popularitasnya. Disebutkan bahwa salah satu pamannya yang lain adalah seorang Satanis dan penganut Paganisme sementara seorang sepupunya yang lain memiliki kelainan jiwa dan gemar melakukan kejahatan sexual.


Pernikahan dengan Ferenc Nádasdy

Tahun 1575, di usia 15 tahun Elizabeth menikah dengan Count Ferenc Nádasdy yang 10 tahun lebih tua darinya. Karena suaminya berasal dari bangsawan yang lebih rendah, maka Count Ferenc Nádasdy menggunakan nama Báthory dibelakangnya. Elizabeth tetap menggunakan nama keluarganya yaitu Báthory dan tidak menjadi Nádasdy. Kedua pasangan tersebut kemudian tinggal di Istana Čachtice, yang merupakan sebuah kastil di atas pegunungan dengan desa Čachtice dilembah dibawahnya. Suaminya jarang mendampingi Elizabeth karena Count Ferenc lebih sering berada di medan pertempuran melawan Turki Usmani (Ottoman Empire). Ferenc kemudian menjadi terkenal karena keberaniannya di medan pertempuran, bahkan dianggap sebagai pahlawan di Hungaria dengan julukan 'Black Hero of Hungary'.

Elizabeth yang masih muda tentu senantiasa merasa kesepian karena selalu ditinggal sang suami. Disebutkan dia memiliki kebiasaan mengagumi kecantikannya dan kemudian memiliki banyak kekasih gelap yang melayaninya selama sang suami tidak berada di tempat. Elizabeth bahkan pernah melarikan diri bersama kekasih gelapnya namun kemudian kembali lagi dan suaminya memaafkannya. Tetapi hal tersebut tidak mengurangi ketagihan Elizabeth akan kepuasan seksual. Disebutkan juga Elizabeth menjadi seorang biseksual dengan melakukan hubungan lesbian dengan bibinya, Countess Klara Báthory.


Satanisme

Elizabeth kemudian mulai terpengaruh dengan satanisme yang diajarkan oleh Dorothea Szentes, biasa disebut Dorka, salah seorang pelayan terdekatnya. Karena pengaruh Dorka, Elizabeth mulai menyenangi kepuasan seksual lewat penyiksaan yang dilakukannya terhadap pelayan-pelayan lainnya yang masih muda. Selain Dorka, Elizabeth dibantu beberapa pelayan terdekatnya yaitu: suster Iloona Joo, pelayan pria Johaness Ujvari dan seorang pelayan wanita bernama Anna Darvula, yang merangkap sebagai kekasih Elizabeth.

Bersama para kru S&M-nya, Elizabeth mengubah Istana Čachtice menjadi pusat teror dan penyiksaan seksual. Para gadis muda yang jadi pelayannya disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan seperti diikat, ditelanjangi lalu dicambuk dan juga menggunakan berbagai alat untuk menyakiti bagian-bagian tubuh tertentu.

Tahun 1600, Ferenc meninggal dan era teror sesungguhnya dimulai. Memasuki usia 40 tahun, Elizabeth menyadari bahwa kecantikannya mulai memudar. Kulitnya mulai menunjukan tanda-tanda penuaan dan keriput yang sebenarnya lumrah di usia tersebut. Tapi Elizabeth adalah pemuja kesempurnaan dan kecantikan dan dia akan melakukan apa saja demi mempertahankan kecantikannya. Suatu saat seorang pelayaan wanita yang sedang menyisir rambutnya secara tidak sengaja menarik rambut Elizabeth terlalu keras. Elizabeth yang marah kemudian menampar gadis malang tersebut. Darah memancar dari hidung gadis itu dan mengenai telapak tangan Elizabeth. Saat itu Elizabeth disebutkan 'menduga dan percaya' bahwa darah gadis muda memancarkan cahaya kemudaan mereka. Serta merta dia memerintahkan pelayannya, Johannes Ujvari dan Dorka menelanjangi gadis tersebut, menariknya keatas bak mandi dan memotong urat nadinya. Ketika si gadis meninggal kehabisan darah, Elizabeth segera mesuk kedalam bak mandi dan berendam dalam kubangan darah. Dia menemukan apa yang diyakininya sebagai 'Rahasia Awet Muda'.

Ketika semua pelayan mudanya sudah mati, Elizabeth mulai merekrut gadis muda di desa sekitarnya untuk dijadikan pelayan di Kastilnya. Nasib mereka semuanya sama , diikat diatas bak mandi kemudian urat nadi mereka dipotong hingga darah mereka menetes habis kedalam bak mandi. Seringkali Elizabeth berendam didalam kolam darah sambil menyaksikan korbannya sekarat meneteskan darah hingga tewas. Sesekali Elizabeth bahkan meminum darah para gadis tersebut untuk mendapatkan apa yang ia sebut 'inner beauty'.


Akhir Kiprah dan Penangkapan

Lama kelamaan Elizabeth merasa bahwa darah para gadis desa masih kurang baginya. Demi mendapat darah yang menurutnya lebih berkualitas, Elizabeth mengincar darah para gadis bangsawan rendahan. Dia kemudian melakukan penculikan terhadap gadis-gadis bangsawan untuk dijadikan korbannya. Namun hal tersebut menjadi bumerang baginya. Hilangnya gadis-gadis bangsawan dengan cepat mendapatkan perhatian di kalangan bangsawan, orang-orang berpengaruh, hingga Raja sendiri. Tanggal 30 Desember 1610, pasukan tentara dibawah pimpinan György Thurzó, yang merupakan sepupu Elizabeth sendiri, menyerbu Istana Čachtice di malam hari. Mereka semua terkejut melihat pemandangan yang mereka temukan di dalam Istana Čachtice. Mayat seorang gadis yang pucat kehabisan darah tergeletak diatas meja makan, seorang lainnya yang masih hidup namun sekarat ditemukan terikat di tiang dengan kedua urat nadinya disayat hingga meneteskan darah. Di bagian penjara ditemukan belasan gadis yang sedang ditahan menunggu giliran dibunuh. Kemudian di ruang basement ditemukan lebih dari 50 mayat yang sebagian besar sudah mulai membusuk.

Sekurangnya 650 nama tercatat dalam pengadilan atas Elizabeth Bathory di tahun 1611. Nama-nama itu didapat berdasarkan laporan dari berbagai pihak. Mulai dari keluarga-keluarga petani hingga bangsawan. Elizabeth sendiri tidak pernah didatangkan ke pengadilan untuk diadili secara langsung. Hanya empat pelayannya yang diadili dan kemudian dihukum mati. Raja Hungaria memerintahkan Elizabeth dikurung dalam kamarnya di Istana Čachtice selama sisa hidupnya. Para pekerja kemudian dikerahkan untuk menutup semua pintu dan jendela ruang kamar Elizabeth dengan tembok dengan hanya menyisakan lubang kecil yang digunakan untuk memasukan makanan dan minuman.

Tahun 1614, atau 4 tahun setelah Elizabeth diisolasi dengan tembok di kamarnya sendiri, seorang penjaga melihat makanan yang disajikan untuk Elizabeth tidak tersentuh selama seharian. Penjaga itu kemudian mengintip kedalam dan melihat sang Countess tertelungkup dengan wajah di lantai. Elizabeth 'The Blood Countess' Báthory meninggal di usia 54 tahun pada 21 Agustus 1614.